"Kami hanya ingin hidup tenang," kata Marni dengan suara lirih. "Aku tinggal bersama ibu dan ayahku yang sudah tua, beserta adik ipar laki-laki dan istrinya. Juga ada adik ipar laki-laki yang masih muda, belum menikah. Kami bekerja bersama, membangun tempat sederhana untuk hidup jauh dari Yaksa."

Lynx mengangguk tanpa berkata apa-apa. Ia tahu bahwa kata-kata tak akan bisa menyembuhkan luka Marni, tapi kehadirannya saja cukup membuat wanita itu merasa lebih tenang.

"Suamiku..." Marni berhenti sejenak, menelan ludah. "Dia terbunuh oleh orang yang memfitnahku, tetua Yaksa. Mereka bilang aku membunuhnya untuk merebut harta keluarga, padahal aku bahkan tidak punya alasan untuk itu. Aku hanya ingin hidup damai." Kata Marni sambil memandangi wajah anaknya.

"Lalu mereka mengusirmu?" tanya Lynx, menoleh sekilas.

"Ya," jawab Marni dengan lirih. "Tetua itu memutarbalikkan fakta. Dia membuat semua orang percaya aku adalah penyebab kematian suamiku. Mereka ingin menangkap dan menjatuhka hukuman kepadaku, tapi aku melarikan diri bersama keluargaku yang percaya padaku. Kami membangun tempat sendiri jauh dari Yaksa."

Lynx menatap lurus ke depan. "Dan sekarang, tempat itu juga diserang."

Marni hanya bisa mengangguk, air mata mengalir di pipinya. "Mereka tidak melepaskan kami. Aku hanya ingin hidup tenang membesarkan anakku, tapi mereka sengaja mengincar kami. Aku ingin menyelamatkan mereka semua."

"Apa kamu tahu alasan suamimu dibunuh?" Tanya Lynx penasaran.

Marni menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu, tapi beberapa hari sebelum meninggal, suamiku terlihat sangat ketakutan. Dia sangat gelisah dan tidak bisa beristirahat dengan baik."

Lynx berpikir pasti tragedi ini tidak sesederhana yang terlihat. Dia yakin ada cerita dibalik kematian suami Marni. "Apakah suamimu tidak menceritakan apapun, atau meninggalkan petunjuk?" Tanyanya lagi.

"Suamiku tidak menceritakan apapun. Dia tidak suka menceritakan masalahnya agar kami tidak khawatir. Tapi sebelum kejadian itu, suamiku sedang bertugas menjaga rumah tetua tesebut. Suamiku adalah seorang penjaga keamanan yang bertugas melindungi para suku Yaksa." Ceritanya dengan sedih.

Tidak ingin Marni bertambah sedih, Lynx memutuskan untuk lebih fokus diperjalanan dan berhati-hati. Dia harus waspada jika ada serangan mendadak, baik dari hewan buas ataupun dari para perampok yang mengejar Marni.

Ketika mereka akhirnya tiba di pondok kecil yang dulu menjadi tempat tinggal Marni dan keluarganya, tempat itu terlihat hancur berantakan, dengan bekas jejak kaki berserakan di tanah. Barang-barang berceceran dimana-mana. Mereka tidak menemukan satupun jejak kehidupan di sana.

"Tidak ada satupun orang disini. Tapi sangat banyak jejak yang ditinggalkan para perampok itu saat menghancurkan tempat ini. Aku yakin semua keluargamu sudah di tangkap dan dibawa mereka." Kata Lynx sambil memeriksa keadaan sekitar.

Marni menjatuhkan diri ke tanah, memeluk anaknya sambil menangis. "Mereka sudah pergi... mereka sudah membawanya pergi!"

Lynx berjongkok, memeriksa jejak yang tertinggal. Jejak kaki menuju ke arah utara, menuju hutan yang lebih dalam. "Mereka belum lama pergi dari sini. Kita masih punya waktu untuk menyusul."

Marni menatapnya dengan mata penuh harap. “Apa kau yakin?”

Lynx berdiri, matanya serius. “Aku akan segera mengejar dan menemukan mereka. Kalian tunggulah disini.”

"Aku ikut, mereka keluargaku." Jawab Marni dengan tegas.

Lynx memandang keadaan di sekitar. Dia merasa jika sendirian, dengan kekuatannya, dia bisa dengan mudah mengejar mereka. Namun, Lynx tidak tega meninggalkan Marni hanya berdua dengan anaknya. Dia khawatir masih ada rekan perampok atau hewan buas yang dapat mencelakai Marni dan anaknya.

"Baiklah, tapi kamu harus mengikuti instruksiku nanti saat kita bertemu dengan mereka. Kamu harus bersembunyi dan melindungi anakmu agar aku bisa leluasa menolong keluargamu." Kata Lynx sambil berjalan.

Marni menganggukkan kepala, sambil mengikuti langkah Lynx. "Baiklah Lynx. Terimakasih karena kamu bersedia membantuku menyelamatkan keluargaku." Katanya dengan haru dan penuh harap. Dia bersyukur bertemu dengan seseorang yang bersedia membantunya meskipun mereka baru saja mengenal.

Mengikuti jejak para perampok, Lynx dan Marni bergerak cepat ke arah selatan. Jejak kaki yang berat menunjukkan bahwa mereka membawa tawanan, mungkin keluarganya. Lynx terpaksa harus tetap mengendalikan kecepatannya karena tidak ingin meninggalkan Marni dan anaknya.

Merasa mereka akan tertinggal jauh, Lynx mempunyai sebuah ide terlintas dipikirannya meskipun tidak akan terasa nyaman untuk mereka berdua.

"Marni, dengan kecepatan kita sekarang, akan sulit mengejar mereka. Aku khawatir semakin lama kita menemukan mereka, berbahaya untuk kondisi keluargamu." Kata Lynx sambil menghentikan langkahnya.

Marni menyadari kebenaran kata-kata Lynx. Marni dapat melihat Lynx sengaja menahan kecepatanya. Bisa terlihat dari napas Lynx yang masih terlihat santai meskipun sudah berjalan sekian jauh. "Kamu benar, aku merasa hanya memperlambat dirimu. Kamu bisa duluan mengejar mereka. Aku akan segera menyusul." Jawab Marni sambil memperbaiki posisi anaknya.

"Terlalu berbahaya meninggalkan kalian berdua. Aku punya sebuah ide yang bisa mempercepat mengejar mereka tapi mungkin tidak akan nyaman untukmu." Kata Lynx sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Katakan apa idemu? Jika bisa mempercepat mengejar mereka, aku akan menyetujuinya." Kata Marni dengan cepat.

"Aku akan menggendong kalian. Kamu bisa naik ke punggungku dan anakmu akan aku gendong di depan." Kata Lynx dengan wajah serius.

Wajah Marni memerah membayangkan dirinya di gendong oleh Lynx. Terutama mengingat Lynx seorang pria, dan dirinya sudah lama tidak bersentuhan dengan pria manapun. "A..Aku sangat berat. Kamu justru akan kesulitan jika sambil menggendong kami." Katanya terbata-bata menahan malu.

"Kamu bisa percaya padaku. Aku sanggup menggendong kalian dan berlari lebih cepat. Kita tidak ada waktu lagi, jangan banyak berpikir. Ini demi keluargamu." Kata Lynx sambil berjongkok.

Sambil menahan malu, Marni naik ke punggung Lynx. Setelah menggendong anaknya Marni, Lynx segera mengerahkan kekuatannya dan berlari secepat yang dia bisa.

Saat berlari, bagian vital Lynx terbangun dan berdiri, "Duh, jadi bangun deh. Bukit kembarnya sangat terasa dipunggungku." Batin Lynx. "Pahanya terasa sangat lembut meski tidak selembut Leena." Lanjutnya sambil terbayang sosok Leena, gadis yang disukanya.

Sementara Marni semakin mempererat pelukannya di leher Lynx. Dia tidak menduga bahwa Lynx yang terlihat lemah dapat menggendong dan membawanya berlari dengan cepat. Marni bisa merasakan hembusan angin kencang mengenai wajahnya. Dia memejamkan matanya. "Kulitnya sangat mulus. Lebih halus dari kulitku, tapi dia sangat perkasa." Batin Marni. Tanpa disadarinya, bagian intimnya menjadi basah.

"Apa ini, kenapa punggungku basah. Apakah Marni ketakutan ku bawa berlari hingga tidak bisa menahan buang air kecil." Batin Lynx dengan polosnya. "Aku harus fokus. Bahaya masih mengintai keluarganya." lanjutnya sambil mempercepat larinya.

Sementara anak Marni, bernama Toni memiliki usia sekitar 2 tahun, meski masih kecil, dia memiliki keberanian yang tinggi. Dia tertawa dengan riang merasakan dirinya dibawa lari dengan cepat.

"Anak pemberani, syukurlah kamu tidak menangis. Kamu harus kuat ya agar bisa menjaga ibumu," Kata Lynx tanpa mengurangi kecepatannya berlari.

Saat mereka semakin dekat dengan kelompok itu, Lynx memberi isyarat pada Marni untuk turun dari tubuhnya sambil menyerahkan anaknya. Marni terlihat belum menyadari kata-kata Lynx. Tubuhnya masih belum merespon dengan baik karena mengalami kejutan dengan kekuatan dan keperkasaan Lynx.

"Eh..udah sampai? Dimana mereka." Katanya kebingungan sambil memperhatikan keadaan sekitar.

“Kalian bersembunyi di sini,” bisik Lynx. “Aku akan mengurus mereka.” Katanya sambil menunjuk ke sebuah arah dimana terdapat rombongan orang dan terdengar suara wanita menangis.

“Tapi...” Marni tampak ragu. “Mereka begitu banyak...”

Lynx menatapnya, senyumnya menenangkan. “Percayalah padaku. Aku akan baik-baik saja.”

Marni akhirnya mengangguk, membawa anaknya untuk bersembunyi di balik semak-semak tebal.

Setelah mempelajari keadaan sekitar, Lynx segera melompat ke atas pohon dan mendekati mereka.

Dari atas pohon, Lynx dapat melihat rombongan perampok. Seseorang dari mereka terlihat melempar kesamping seorang wanita tanpa pakaian dengan kasar hingga jatuh terbanting, kemudian orang tersebut berusaha menindih si wanita, sementara beberapa orang lainnya sedang terikat di pepohonan.

"Lepaskan wanita itu!" Teriak Lynx sambil melompat turun dari atas pohon berusaha menghentikan.
